Laman

Sabtu, 28 Agustus 2010

Tangggung Jawab Orang Tua Terhadap Anak Dalam Bentuk Immateri

Setelah sang anak lahir, tumpuan kasih sayang perhatian dan tanggung jawab lainnya lebih terasa lagi. Bagi orang yang memahami ajaran agama islam dengan baik, tentu ia akan bersyukur dengan hadirnya sang anak dilingkungan keluarga, disamping itu juga ia harus memikul tanggung jawab amanat yang berupa anak yang dititipkan kepadanya.
Cinta kasih sayang orang tua tanggung jawab oarang tua terhadap anaknya, terutama ibu merupakan wujud nyata dari tanggung jawab orang tua terhadap anaknya dan merupakan kebutuhan pertama dan utama bagi sang anak. Rasa gembira dan cinta serta kasih sayang yang tulus terhadap anak merupakan fitrah yang dianugrahkan oleh Allah kepada setiap orang tua.
Rasa kasih sayang orang tua terhadap anaknya yang teralisasikan dalam bentuk perilaku dan peribadi mereka akan menjadi dasar penting bagi anak untuk memulai hidupnya dengan optimis, gembira, bergairah dan percaya pada diri sendiri.
Para ahli jiwa sebagimana yang dikutip oleh Alex Sobur (1988: 46-49), menekankan bahwa, lima tahun pertama dari kehidupan sangat menentukan perkembangan kepribadian seseorang. Pengalaman yang diterima oleh seorang anak ataupun yang tidak doperoleh dalam lima tahun pertama, ini mempunyai pengeruh yang cukup besar, yang akan menentukan akan menjadi anak atau oarang yang bagaimana ia kelak.
Mengingat begitu besarnya pengaruh kasih sayang orang tua terhadap perkembangan jiwa anak, maka orang tua di samping harus bersyukur atas kehadiran anaknya, orang tua harus memberikan kasih sayang yang ikhlas kepada anaknya. Tidak adanya kasih sayang itu merupakan faktor yang paling membahayakan kehidupan anak, pengeruh yang paling ringan dari kehilangan kasih sayang itu adalah rasa cemas dan berbagai kegoncangan jiwa. Apabila anak kehilangan haknya untuk diperhatikan, dilindungi dan disayangi, maka ia akan mengalami depresi emosional, yang akibatnya anak akan terganggu perkembangannya hingga dewasa, ia mempunyai ketahanan mental dalam menghadapi problema hidupnya.
Soelaiman Yoesoef dan Slamet Santoso (1974: 48) berpendapat, terjaminnya kehidupan emosional anak pada waktu kecil, berarti menjamin pembentukan pribadi anak selanjutnya.
Sebagai wujud cinta dan kasih sayang serta tanggung jawab orang tua terhadap anaknya, maka Islam mengajarkan agar oarang tua melakukan hal-hal senagai berikut:
a. Mengadzani dan Mengiqamati Anak Yang Baru Lahir
Hikmah mengadzani dan mengiqamatikan pada telinga anak yang baru lahir menurut Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah di dalam kitabnya, Tuhfatu ‘I-Maudud adalah, bahwa agar anak yang baru pertama kali masuk dan terdengar oleh anak adalah agar apa yang pertama-tama menembus pendengaran manusia adalah kalimat-kalimat seruan Yang Maha Tinggi yang mengandung kebesaran Tuhan dan syahadat (persaksian) yang dengannyalah ia pertama-tama masuk Islam. Hal itu adalah merupakan talqin (pengajaran) baginya tentang syari’at Islam ketika ia memasuki dunia, sebagaimana halnya tauhid ditalqinkan kepadanya ketika ia meninggal dunia. Dan tidak mustahil bila pengaruh adzan itu akan meresap di dalam hatinya, walaupun ia tidak merasa.
Mengadzani anak yang baru lahir pada telinga kanan dan mengiqamati pada telinga yang kiri. Hal ini mengikuti sunnah Rasulallah SAW, ketika cucu beliau yaitu Hasan dan Husain dilahirkan oleh ibunya Siti Fatimah.
Abu Daud dan tirmidzi meriwayatkan dari Abu Rafi’ bahwa dia berkata:
رَأَيْتُ رَسُوْلَ اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ أَذَّنَ فِى أُذُنِ الحَسَنِ بْنِ عَلِيِّ حِيْنَ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ.
Artinya:” Aku melihat Rasulullah Saw. menyuarakan adzan dari Al-Hasan bin ‘Ali, ketika Fatimah melahirkan”. (Abdulaah Ulwan Nasih, 1993: 50)
Al-Baihaqi dan Ibnu ‘s-Sunni meriwayatkan dari Al-Hasan bin ‘Ali dari Nabi Saw., bahwa beliau bersabda:
مَنْ وُلِدَ لَهُ مَوْلُوْدٌ فَأَذَّنَ فِى أُذُنِهِ اليُمْنَى، وَأَقَامَ فِى أُذُنِهِ اليُسْرَى، لَمْ تَضُرُّهُ أُمُّ الصِّبْيَانِ.
Artinya:” Barang siapa diberi anak yang baru lahir, kemudian ia menyuarakan adzan adzan pada telinga kananya dan qamat pada telinga kitinya maka anak yang baru lahir tidak akan terkena bahaya Ummu ‘shi-shibyan”. (Abdulaah Ulwan Nasih, 1993: 57)
Dan diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra:
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِى أُذُنِ الْحَسَنِ بْنِ عَلِيِّ يَوْمَ وُلِدَ وَأَقَامَ فِى أُذُنِهِ الْيُسْرَى.
Artinya:” Nabi Saw telah menyuarakan adzan pada telinga Al-Hasan bin Ali (yang sebalah kanan) ketika ia dialahirakan dan menyuarakan qamat pada telinga kirinya. (Abdulaah Ulwan Nasih, 1993: 57)
b. Mentahnikan Ketika Anak Lahir
Tahnik (menggosok langit-langit) adalah mengunyah kurma dan menggosoknya ke tempat tersebut bagi anak yang baru dilahirkan. Hal itu dilakukan dengan menaruh sebagian kurma yang telah dikunyah di atas jari dan memasukan jari itu ke dalam mulut anak, kemudian menggerak-gerakannya ke kanan dan ke kiri dengan gerakan yang lembut, sehingga merata di sekeliling anak (Abdulaah Ulwan Nasih, 1993: 58). Hikmahnya antara lain, menurut Mahmud as-Sabagh adalah untuk menguatkan otot-otot, mulut dan lidah. Dengan mengecap makanan pertama, bayi yang baru lahir siap menyedot susu ibu dengan isapan yang kuat dan alami.
Dalam sebuah hadist disebutkan:
عَنْ اَبْنِ مُسَى رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: وُلِدَ لِيْ غُلاَمٌ فَأَتِيْتُ النَّبِيِّ ص.م : فَسَمَّاهُ إِبْرَاهِيْمَ فَحَنَّكَهُ بِثَمْرَةٍ وَدَعَا لَهُ بِالْبَرَكَةِ وَدَفَعَهُ
Artinya:” Dari Abu Musa r.a, ia berkata : Ada seorang anak yang dilahirkan, kemudian saya hadapkan kepda Rasulallah SAW, beliau memberikan nama Ibrahim dan mentahnikanya dengan kurma, kemudian berdo’a agar ia mendapatkan berkah dan kemudian beliaumengembilakan anak itu kepad saya” (Bukhory. Tth/ : 303)

c. Memberikan Nama
Pemberian nama kepada anak yang baru lahir dianjurkan oleh Rasulallah SAW. Pemberian nama-nama yang baik yang sesuai dengan aqiqah Islam, akan besar pengaruhnya bagi penyandangnya. Seorang ayah atau ibu yang bijaksana hendaknya mereka memilih nama yang paling baik dan indah untuk anak-anaknya , sebagai pelaksanaan terhadap anjuran dan perintah Rasulallah Saw.
Abu Daud meriwayatkan dengan sanad hasan dari Abi ‘d-Darda ra. Ia mengatakan bahwa Rasulallah Saw. bersabda.
إِنَكُمْ تُدْعَوْنَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِأَسمَائِكُمْ وَبِأَسْمَاءِ أَبَاءِكُمْ فَأَحْسِنُوْا أَسْمَاءَكُمْ
Artinya:” Sesungguhnya pada hari kiamat nanti kamu akan dipanggil dengan nama-nama kamu sekalian dan nama-nama bapak-bapak kamu sekalian. Oleh katena itu, buatlah nama-nama yang baik untuk kamu sekalian. . (Abdulaah Ulwan Nasih, 1993: 65)

Di dalam shahihnya, Muslim meriwayatkan dari Ibnu Umar ra. Ia mengatakan bahwa Rasulallah Saw. bersabda:
إِنَّ أَحَبَّ أَسْمَائِكُمْ أِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ عَبْدُ اللهِ وَعَبْدُ الرَّحْمَنِ
Artinya:” Sesungguhnya nama-nama kamu sekalian yang paling disukai oleh Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Agung adalah Abdulallah dan Abdu’r-Rahman. (Abdulaah Ulwan Nasih, 1993: 65)
Nama-nama seperti Abdullah, Abdullah dan nama-nama para Nabi sebagaimana yang disebutkan dalam hadist diatas adalah nama-nama yang terpuji di sisi Allah SWT. Sebaliknya Rasullah SAW melarang umatnya memberikan nama seperti Aflah, Yassar dan sebagainya. Secara ringkas Ibnu Majah mengatakan:
نَهَانَا رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهِ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ تُسَمَّيَّ رَقِيْقَنَا أَرْبَعَةَ أَسْمَاءٍ: أَفْلَحَ، وَنَافِعٌ، وَرَبَّاحٌ، وَيَسَّارٌ.
Artinya:” Rasulallah Saw. melarang kita menamakan hamba kita dengan empat nama: Aflah, Nafi’, Rabbah, Yassar. . (Abdulaah Ulwan Nasih, 1993: 68)
Abu Daud dan An-Nasai’ meriwayatkan dari Abu Wahab Al-Jasyimi ra. Ia mengatakan bahwa Rasulallah Saw. pernah bersabda:
تُسَمُّوْا بِأَسْمَاءِ الْأَمْبِيَاءِ، وَأَحَبُّ الْأَسْمَاءِ إِلَى اللهِ : عَبْدُ اللهِ، عَبْدُ الرَّحْمَنِ، وَأَسْدَقُهَا: حَارِثٌ، وَهَمَّامٌ، وَأَقْبَاحُهَا، حَرْبٌ، وَمُرَّةٌ.
Artinya:” Ambilah nama-nama kamu sekalian dari nama para Nabi. Nama-nama yang paling disukai Allah Abdu ‘I-lah dan Abdu ‘r-Rahman. Nama-nama yang paling benar adalah Harist dan Hammam. Sedangkan yang paling jelek adalah Harab (perang) dan Murrah (pahit). (Abdulaah Ulwan Nasih, 1993: 69)

Di dalam shahihnya, Muslim meriwayatkan dari Ibnu Umar ra. Ia mengatakan bahwa Rasulallah Saw. bersabda:

أَغْيَظُ رَجُلٍ عَلَى اللهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَأَخْبَثَهُ: رَجُلٌ تُسَمَّى مَلِكِ الأَمْلاَكِ لاَ مَلِكِ إِلاَّ اللهِ.
Artinya:” Orang yang paling dibenci dan buruk di sisi Allah pada hari kiamat adalah orang yang dinamakan Malik ‘I-Amlak (raja di atas raja). Karena, tidak ada raja selain Allah. (Abdulaah Ulwan Nasih, 1993: 65)
Dan hadist yang diriwayatkan oleh Nafi’ dari Umar r.a,
وَلاَتَلْمِزُوْا أَنْفُسُكُم وَلاَتَنَبَزُوْا بِالآَلْقَابِ.........
Artinya: ...Janganlah kamu mencela dirimu sendiri, dan janganlah kamu panggil memanggil dengan gelar yang buruk”.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar